Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah (661-728 H) dalam Kitab beliau Risalah Al-Qubrushiyah hal. 20-26 mengisahkan:
[Kondisi Manusia setelah Nabi Adam as]
Manusia setelah masa Nabi Adam as sebelum masa Nabi Nuh as berada di atas tauhid dan keikhlasan, sebagaimana bapak mereka Nabi Adam –bapak manusia- as. Sampai mereka mengadakan kesyirikan dan pengibadahan berhala. Hal itu sebagai perkara baru yang berasal dari diri mereka sendiri, yang tidak Allah tidak menurunkan kitab-kitab dengan membawa perkara baru itu. Allah juga tidak pernah mengutus para rosul dengan membawa perkara baru itu. Hal itu adalah dengan syubhat-syubhat (perkara-perkara yang samar dan rancu) yang dihiasi oleh setan dari arah logika-logika yang rusak dan filsafat yang menyimpang.
Satu kaum dari mereka meyakini bahwa patung-patung itu adalah rumus-rumus dari bintang-bintang di langit, dan dari derajat-derajat ilmu perbintangan, dan dari ruh-ruh yang tinggi. Satu kaum yang lain membuat patung-patung sesuai dengan bentuk para nabi dan orang-orang sholih. Satu kaum yang lain membuat patung-patung untuk ruh-ruh yang rendah seperti jin dan setan. Dan satu kaum yang lain berada pada pendapat-pendapat yang lain. Kebanyakan mereka taklid (membebek) kepada pimpinan-pimpinan mereka. Kebanyakan mereka berpaling dan menyimpang dari jalan petunjuk.
Satu kaum dari mereka meyakini bahwa patung-patung itu adalah rumus-rumus dari bintang-bintang di langit, dan dari derajat-derajat ilmu perbintangan, dan dari ruh-ruh yang tinggi. Satu kaum yang lain membuat patung-patung sesuai dengan bentuk para nabi dan orang-orang sholih. Satu kaum yang lain membuat patung-patung untuk ruh-ruh yang rendah seperti jin dan setan. Dan satu kaum yang lain berada pada pendapat-pendapat yang lain. Kebanyakan mereka taklid (membebek) kepada pimpinan-pimpinan mereka. Kebanyakan mereka berpaling dan menyimpang dari jalan petunjuk.